Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama
(MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan siswa untuk
memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, karena jenjang pendidikan MTs/SMP
merupakan jenjang terakhir dari program Wajar Dikdas 9 Tahun. Terlebih lagi
dalam pasal 17 Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional disebutkan bahwa jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang yang
melandasi jenjang pendidikan menengah.
Dengan demikian jenjang pendidikan MTs/SMP merupakan
tahapan yang sangat penting dalam upaya pengendalian dan penjaminan mutu
pendidikan. Upaya pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan inilah yang
dimaksud dalam UU No. 20 Tahun 2003 dan
Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 dan dikenal dengan Ujian Nasional (UN). Ujian Nasional merupakan fungsi pengendalian
mutu pendidikan (educational quality
control) dan fungsi penjaminan mutu pendidikan (educational quality assurance).
Sebagai upaya pengendalian mutu pendidikan, Ujian
Nasional berfungsi mengukur dan menilai
pencapaian kompetensi lulusan dalam mata pelajaran tertentu dan sebagai upaya
penjaminan mutu pendidikan Ujian Nasional berfungsi berfungsi menggambarkan peta mutu pendidikan. Selain itu, ujian nasional dapat dijadikan
sebagai motivator bagi pihak terkait untuk lebih bekerja keras guna mencapai
hasil ujian yang lebih baik.
Pada jenjang MTs/SMP mata pelajaran yang diujikan adalah
Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sebagai
upaya penilaian dan evaluasi ujian nasional pada tingkat Madrasah Tsanawiyah,
pada tulisan ini akan dilakukan analisis hasil ujian nasional pada Madrasah
Tsanawiyah seluruh Indonesia tahun 2007 sampai dengan tahun 2012.
1.
Trend
Hasil Ujian Nasional MTs Tahun 2007 – 2012
a.
Peserta
Ujian Nasional
Jumlah peserta Ujian Nasional untuk jenjang pendidikan
Madrasah Tsanawiyah selalu meningkat setiap tahunnya kecuali di tahun 2012. Pada
tahun 2008 jumlah peserta UN MTs adalah 695.306 peserta, meningkat 5,45% dari
jumlah peserta tahun sebelumnya sebesar 659.377 peserta, tahun 2009 berjumlah
729.611 peserta meningkat 4,93% dari jumlah peserta tahun sebelumnya, dan pada
tahun 2010 berjumlah 754.972 peserta meningkat 3,48% dari jumlah peserta tahun
sebelumnya, pada tahun 2011 berjumlah 764.933 peserta meningkat 1,32% dari
jumlah peserta tahun sebelumnya, serta pada tahun 2012 peserta UN berjumlah
758.419 menurun 0,85% dari tahun 2011. (Tabel 1).
Dari tabel 1 juga diketahui jumlah peserta UN MTs dari
tahun 2007 sampai dengan 2012 didominasi oleh peserta dari MTs Swasta dengan
perbandingan rata-rata jumlah peserta UN MTsN dan MTsS adalah 1 : 3. Hal ini
berbanding lurus dengan jumlah lembaga MTs yang juga didominasi oleh jumlah
lembaga MTs Swasta. Bahkan perbandingan jumlah MTs Negeri dan Swasta dari tahun
2007 sampai dengan 2011 adalah 1 : 9.
Tabel
1. Jumlah Peserta UN dan lembaga MTs Tahun 2007-2012
Bila diteliti lebih jauh, hal ini terutama terjadi pada
madrasah swasta. Peningkatan jumlah peserta UN MTsS selalu mengalami penurunan
sejak tahun 2008 hingga tahun 2011, bahkan pada tahun 2012 turun 2,33%
sebaliknya jumlah MTsS terus meningkat hingga menjadi 3,81 pada tahun 2012%
(Gambar 2).
Hal ini juga bisa berarti angka rasio murid dan lembaga
mengalami penurunan. Yang dapat dimaknai bahwa peningkatan jumlah lembaga MTs
Swasta tidak diimbangi oleh peningkatan jumlah murid. Hal ini perlu mendapat perhatian
pihak terkait, agar lebih selektif dalam mengeluarkan pendirian ijin madrasah
swasta. Terutama perlu mempertimbangkan kapasitas dan daya tampung murid pada
lembaga madrasah serta ketersediaan madrasah lain pada jarak yang berdekatan.
a. Hasil
Ujian Nasional
Kelulusan
peserta Ujian Nasional tingkat MTs selalu meningkat setiap tahun baik pada
negeri maupun swasta. Tahun 2012 tercatat tingkat kelulusan siswa peserta ujian
nasional terbesar selama ini yaitu mencapai angka kelulusan 99.69%. Pada tiga
tahun terakhir (2010-2012) tingkat kelulusan siswa MTs Swasta lebih tinggi
dibandingkan MTs Negeri. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan yang
semakin baik di tingkat MTs Swasta dan juga menjadi bukti bahwa perhatian
pemerintah terhadap madrasah swasta dalam upaya meningkatkan mutu madrasah
telah memperoleh hasil yang cukup baik.
Tabel 2. Persentase Kelulusan Siswa MTs pada UN 2007-2011
Gambar 3. Persentase Kelulusan Siswa MTs pada UN 2007-2012
Hal
tersebut diperkuat dengan fakta bahwa 10 besar MTs dengan nilai rata-rata UN
tertinggi pada tahun 2012 adalah MTs Swasta bahkan 10 tertinggi berstatus MTs
Swasta. Nilai rata-rata tertinggi untuk UN 2012 diperoleh MTsS Darul Musyawirin
kabupaten Sumenep propinsi Jawa Timur dengan nilai rata-rata 38,40. Berikut
daftar 10 besar MTs dengan nilai rata-rata tertinggi.
Tabel 3. Sepuluh besar MTs dengan nilai rata-rata tertinggi
UN Tahun 2010
Secara
umum, bila dibandingkan pada jenjang pendidikan menengah pertama antara MTs dan
SMP, sejak ujian nasional tahun 2008 sampai
dengan tahun 2012 jumlah kelulusan siswa MTs selalu lebih tinggi dibandingkan
dengan SMP, bahkan pada tahun 2009 selisih kelulusan siswa MTs dan SMP mencapai
3%. (Gambar 4). Hal ini cukup membanggakan bagi dunia pendidikan Islam, karena bisa dimaknai bahwa MTs secara kualitas
sudah dapat bersaing dengan sekolah umum (SMP) dengan ditunjukkan oleh data hasil
ujian nasional yaitu MTs lebih unggul dari SMP. Hasil ini harus dapat
dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya di masa mendatang.
Gambar 4. Persentase Kelulusan Siswa MTs pada UN 2007-2012
·
Data Hasil UN SMP tahun
2011 tidak tersedia
a. Pencapaian
Kompetensi Pendidikan pada UN 2012
Tabel 4. Statistik
Ujian Nasional MTs Tahun 2012
Data di atas
menunjukkan bahwa semua mata ujian termasuk klasifikasi sangat baik (A) kecuali
B. Inggris (B), dilihat dari rata-rata nilai, nilai rata-rata terendah terdapat
pada mata ujian bahasa Indonesia yaitu 7,29 sedangkan tertinggi pada mata ujian
bahasa Indonesia yaitu 8,04. Hasil Ujian
Nasional MTs ini mengindikasikan secara umum siswa MTs sudah mencapai
kompetensi yang baik pada mata pelajaran yang diujikan. Dilihat dari keragaman
atau variasi antar nilai, hanya nilai Matematika yang mempunyai keragaman di
atas 1 (> 1) yang berarti kemampuan siswa pada mata pelajaran matematika
cukup beragam. Variasi terendah terdapat pada mata ujian bahasa Indonesia yaitu
0,78 dan variasi tertinggi pada mata ujian matematika yaitu 1,08. Hal ini harus
menjadi perhatian karena pada mata ujian matematika memiliki variasi lebih dari
satu. Bila ditinjau dari sisi range (jarak) nilai tertinggi dan terendah, pada
setiap mata ujian masih terdapat siswa
yang memiliki nilai rendah padahal nilai tertinggi yang didapat siswa adalah
10,00. Ini berarti masih terdapat siswa yang secara kompetensi masih rendah
pada setiap mata pelajaran.
Untuk mengatasi hal
tersebut, upaya yang dapat dilakukan antara lain : (1) peningkatan kualitas
guru dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep-konsep materi pelajaran; (2)
menyediakan sarana prasarana pendukung seperti ruang laboratorium dan
perlengkapannya; dan (3) pengayaan materi-materi pelajaran yang dianggap sulit
oleh siswa.
a. Gambaran
Hasil UN Setiap Mata Ujian
Secara
umum, nilai rata-rata mata ujian yang rendah dan menyebabkan ketidaklulusan
siswa adalah matematika dan IPA. Hal ini berarti perlu perhatian khusus pada
mata pelajaran tersebut agar hasil UN tahun berikutnya dapat lebih baik.
Sedangkan nilai rata-rata tertinggi terdapat pada mata ujian bahasa Inggris. Pada
tabel 5 juga dapat dilihat bahwa untuk propinsi Bangka Belitung seluruh mata
ujian nasional tahun 2011 memiliki nilai terendah, hal ini harus menjadi
perhatian khusus pihak terkait khususnya Kemenag Propinsi Bangka Belitung dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran 4 mata pelajaran yang diujikan pada ujian
nasional. Berikut analisis hasil ujian setiap mata pelajaran :
1) Bahasa
Indonesia
Nilai
rata-rata tertinggi untuk mata pelajaran bahasa Indonesia diperoleh propinsi Jawa
Timur yaitu 8,41, selanjutnya adalah propinsi Sumatera Utara dan DI Yogyakarta
nilai rata-rata 8,36 dan 8,28. Sedangkan nilai rata-rata terendah adalah
propinsi Nusa Tenggara Timur dan Bangka Belitung dengan nilai rata-rata 7,30
dan 7,32. Seluruh propinsi memiliki nilai rata-rata di atas 7,00, hal ini
berarti keberhasilan mata pelajaran B.
Indonesia sudah sangat baik.
Tabel 5. Hasil Ujian Nasional MTs setiap Propinsi Tahun
2012
1) Bahasa
Inggris
Pada
mata ujian bahasa Inggris, nilai rata-rata tertinggi diperoleh propinsi Sulawesi
Selatan yaitu 8,09, selanjutnya adalah propinsi Sulawesi Utara dan Sumatera
Utara Timur dengan nilai rata-rata 7,85 dan 7,71. Sedangkan nilai rata-rata
terendah adalah propinsi DI Yogyakarta, Bangka Belitung dan Kalimantan Timur
dengan nilai rata-rata 5,04, 5,27 dan 5,80. Hanya 1 propinsi yang memiliki
rata-rata di atas 8 yaitu propinsi Sulawesi Selatan.
2) Matematika
Nilai
rata-rata tertinggi untuk mata ujian matematika diperoleh propinsi Sulawesi
Selatan dengan nilai rata-rata 8,59 kemudian propinsi Sumatera Utara, Jawa
Timur dengan nilai 8,45 dan 8,24. Sementara nilai terendah adalah propinsi DI
Yogyakarta, Bangka Belitung, dan Kalimantan Timur dengan nilai rata-rata 5,24, 5,49
dan 6,27.
3) Ilmu
Pengetahuan Alam
Pada
mata pelajaran IPA, nilai rata-rata tertinggi diperoleh propinsi Sulawesi
Selatan dengan nilai 8,60, kemudian propinsi Sumatera Utara dan Aceh dengan
nilai 8,22 dan 8,15. Sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada propinsi Bangka
Belitung dan DI Yogyakarta dengan nilai 5,57 dan 5,74. Hal yang menarik dan
harus menjadi bahan evaluasi karena hanya 2 propinsi yang mempunyai nilai UN
IPA lebih kecil dari 6.00.
1.
Kesimpulan
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa analisis
hasil ujian nasional merupakan peta atau kondisi pendidikan di madrasah
tsanawiyah saat ini. Peta tersebut merupakan informasi yang perlu dikaji secara
mendalam oleh para pengambil kebijakan di
tingkat pusat dan daerah sebagai salah satu masukan atau dasar dalam
memperbaiki mutu pendidikan Islam. Secara umum kesimpulan yang dapat ditarik
dari analisis hasil ujian nasional MTs adalah sebagai berikut :
· Terjadi
penurunan peningkatan jumlah peserta UN setiap tahunnya dari meningkat 5,45%
pada tahun 2008 hingga hanya menjadi 1,32% pada tahun 2011, bahkan di tahun
2012 terjadi penurunan sebesar 0,85%. Dan bila dibandingkan dengan perkembangan
jumlah lembaga MTs, trend penurunan peningkatan jumlah peserta UN tersebut perlu
menjadi perhatian pihak terkait untuk mengetahui penyebab trend penurunan
peningkatan jumlah peserta UN tingkat MTs karena hal ini berbanding terbalik
dengan jumlah lembaga, peningkatan jumlah lembaga MTs mengalami peningkatan
setiap tahunnya, dari meningkat 2,09% pada tahun 2008 hingga di tahun 2011
jumlah lembaga MTs meningkat lebih dari 5% yaitu 5,21%.
· Kelulusan peserta Ujian Nasional tingkat MTs selalu
meningkat setiap tahun baik pada negeri maupun swasta. Tahun 2012 tercatat
tingkat kelulusan siswa peserta ujian nasional terbesar selama ini yaitu
mencapai angka kelulusan 99.69%.
· Pada tiga tahun terakhir (2010-2012) tingkat kelulusan
siswa MTs Swasta lebih tinggi dibandingkan MTs Negeri. Hal ini mengindikasikan
bahwa kualitas pendidikan yang semakin baik di tingkat MTs Swasta dan juga
menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah terhadap madrasah swasta dalam upaya
meningkatkan mutu madrasah telah memperoleh hasil yang cukup baik.
· Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan yang
semakin baik di tingkat MTs Swasta dan juga menjadi bukti bahwa perhatian
pemerintah terhadap madrasah swasta dalam upaya meningkatkan mutu madrasah
telah memperoleh hasil yang cukup baik. Hal tersebut diperkuat dengan fakta
bahwa 10 besar MTs dengan nilai rata-rata UN tertinggi pada tahun 2012 adalah
MTs Swasta.
· Semua mata ujian termasuk klasifikasi sangat baik (A), kecuali
B.Inggris (B) dilihat dari rata-rata nilai, nilai rata-rata terendah terdapat
pada mata ujian bahasa Indonesia yaitu 7,29 sedangkan tertinggi pada mata ujian
bahasa Indonesia yaitu 8,04. Hasil Ujian
Nasional MTs ini mengindikasikan secara umum siswa MTs sudah mencapai
kompetensi yang baik pada mata pelajaran yang diujikan.
· Pada jenjang pendidikan menengah pertama (MTs dan
SMP), sejak ujian nasional tahun 2008
sampai dengan tahun 2012 jumlah kelulusan siswa MTs selalu lebih tinggi
dibandingkan dengan SMP. Hal
ini bermakna bahwa MTs secara kualitas sudah dapat bersaing dengan sekolah umum
(SMP).
· Hal yang menarik dan harus menjadi bahan evaluasi pada
mata ujian IPA adalah hanya ada hanya 2 propinsi yang mempunyai nilai UN IPA
lebih kecil dari 6.00, yaitu Bangka Belitung dan DI Yogyakarta.
2.
Bahan Bacaan
· Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2007-2012
· Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 tentang Ujian Nasional
· Statistik Pendidikan Islam Tahun 2007-2010
· Undang-undang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional








Tidak ada komentar:
Posting Komentar