Minggu, 21 Desember 2014

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MTs untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan



Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan siswa untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, karena jenjang pendidikan MTs/SMP merupakan jenjang terakhir dari program Wajar Dikdas 9 Tahun. Terlebih lagi dalam pasal 17 Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
Dengan demikian jenjang pendidikan MTs/SMP merupakan tahapan yang sangat penting dalam upaya pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan. Upaya pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan inilah yang dimaksud dalam UU No. 20 Tahun 2003  dan Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 dan dikenal dengan Ujian Nasional (UN).  Ujian Nasional merupakan fungsi pengendalian mutu pendidikan (educational quality control) dan fungsi penjaminan mutu pendidikan (educational quality assurance).
Sebagai upaya pengendalian mutu pendidikan, Ujian Nasional berfungsi mengukur dan menilai pencapaian kompetensi lulusan dalam mata pelajaran tertentu dan sebagai upaya penjaminan mutu pendidikan Ujian Nasional berfungsi berfungsi menggambarkan peta mutu pendidikan. Selain itu, ujian nasional dapat dijadikan sebagai motivator bagi pihak terkait untuk lebih bekerja keras guna mencapai hasil ujian yang lebih baik.
Pada jenjang MTs/SMP mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sebagai upaya penilaian dan evaluasi ujian nasional pada tingkat Madrasah Tsanawiyah, pada tulisan ini akan dilakukan analisis hasil ujian nasional pada Madrasah Tsanawiyah seluruh Indonesia tahun 2007 sampai dengan tahun 2012.
1.         Trend Hasil Ujian Nasional MTs Tahun 2007 – 2012
a.    Peserta Ujian Nasional
Jumlah peserta Ujian Nasional untuk jenjang pendidikan Madrasah Tsanawiyah selalu meningkat setiap tahunnya kecuali di tahun 2012. Pada tahun 2008 jumlah peserta UN MTs adalah 695.306 peserta, meningkat 5,45% dari jumlah peserta tahun sebelumnya sebesar 659.377 peserta, tahun 2009 berjumlah 729.611 peserta meningkat 4,93% dari jumlah peserta tahun sebelumnya, dan pada tahun 2010 berjumlah 754.972 peserta meningkat 3,48% dari jumlah peserta tahun sebelumnya, pada tahun 2011 berjumlah 764.933 peserta meningkat 1,32% dari jumlah peserta tahun sebelumnya, serta pada tahun 2012 peserta UN berjumlah 758.419 menurun 0,85% dari tahun 2011. (Tabel 1).
Dari tabel 1 juga diketahui jumlah peserta UN MTs dari tahun 2007 sampai dengan 2012 didominasi oleh peserta dari MTs Swasta dengan perbandingan rata-rata jumlah peserta UN MTsN dan MTsS adalah 1 : 3. Hal ini berbanding lurus dengan jumlah lembaga MTs yang juga didominasi oleh jumlah lembaga MTs Swasta. Bahkan perbandingan jumlah MTs Negeri dan Swasta dari tahun 2007 sampai dengan 2011 adalah 1 : 9.
Tabel 1. Jumlah Peserta UN dan lembaga MTs Tahun 2007-2012






Bila diteliti lebih jauh, hal ini terutama terjadi pada madrasah swasta. Peningkatan jumlah peserta UN MTsS selalu mengalami penurunan sejak tahun 2008 hingga tahun 2011, bahkan pada tahun 2012 turun 2,33% sebaliknya jumlah MTsS terus meningkat hingga menjadi 3,81 pada tahun 2012% (Gambar 2).
 


Hal ini juga bisa berarti angka rasio murid dan lembaga mengalami penurunan. Yang dapat dimaknai bahwa peningkatan jumlah lembaga MTs Swasta tidak diimbangi oleh peningkatan jumlah murid. Hal ini perlu mendapat perhatian pihak terkait, agar lebih selektif dalam mengeluarkan pendirian ijin madrasah swasta. Terutama perlu mempertimbangkan kapasitas dan daya tampung murid pada lembaga madrasah serta ketersediaan madrasah lain pada jarak yang berdekatan.
a.    Hasil Ujian Nasional
Kelulusan peserta Ujian Nasional tingkat MTs selalu meningkat setiap tahun baik pada negeri maupun swasta. Tahun 2012 tercatat tingkat kelulusan siswa peserta ujian nasional terbesar selama ini yaitu mencapai angka kelulusan 99.69%. Pada tiga tahun terakhir (2010-2012) tingkat kelulusan siswa MTs Swasta lebih tinggi dibandingkan MTs Negeri. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan yang semakin baik di tingkat MTs Swasta dan juga menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah terhadap madrasah swasta dalam upaya meningkatkan mutu madrasah telah memperoleh hasil yang cukup baik.


Tabel 2. Persentase Kelulusan Siswa MTs pada UN 2007-2011

Gambar 3. Persentase Kelulusan Siswa MTs pada UN 2007-2012

Hal tersebut diperkuat dengan fakta bahwa 10 besar MTs dengan nilai rata-rata UN tertinggi pada tahun 2012 adalah MTs Swasta bahkan 10 tertinggi berstatus MTs Swasta. Nilai rata-rata tertinggi untuk UN 2012 diperoleh MTsS Darul Musyawirin kabupaten Sumenep propinsi Jawa Timur dengan nilai rata-rata 38,40. Berikut daftar 10 besar MTs dengan nilai rata-rata tertinggi.

Tabel 3. Sepuluh besar MTs dengan nilai rata-rata tertinggi UN Tahun 2010
Secara umum, bila dibandingkan pada jenjang pendidikan menengah pertama antara MTs dan SMP,  sejak ujian nasional tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 jumlah kelulusan siswa MTs selalu lebih tinggi dibandingkan dengan SMP, bahkan pada tahun 2009 selisih kelulusan siswa MTs dan SMP mencapai 3%. (Gambar 4). Hal ini cukup membanggakan bagi dunia pendidikan Islam,  karena bisa dimaknai bahwa MTs secara kualitas sudah dapat bersaing dengan sekolah umum (SMP) dengan ditunjukkan oleh data hasil ujian nasional yaitu MTs lebih unggul dari SMP. Hasil ini harus dapat dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya di masa mendatang.
 


Gambar 4. Persentase Kelulusan Siswa MTs pada UN 2007-2012
·         Data Hasil UN SMP tahun 2011 tidak tersedia


a.    Pencapaian Kompetensi Pendidikan pada UN 2012
Tabel 4. Statistik Ujian Nasional MTs Tahun 2012
Data di atas menunjukkan bahwa semua mata ujian termasuk klasifikasi sangat baik (A) kecuali B. Inggris (B), dilihat dari rata-rata nilai, nilai rata-rata terendah terdapat pada mata ujian bahasa Indonesia yaitu 7,29 sedangkan tertinggi pada mata ujian bahasa Indonesia yaitu 8,04.  Hasil Ujian Nasional MTs ini mengindikasikan secara umum siswa MTs sudah mencapai kompetensi yang baik pada mata pelajaran yang diujikan. Dilihat dari keragaman atau variasi antar nilai, hanya nilai Matematika yang mempunyai keragaman di atas 1 (> 1) yang berarti kemampuan siswa pada mata pelajaran matematika cukup beragam. Variasi terendah terdapat pada mata ujian bahasa Indonesia yaitu 0,78 dan variasi tertinggi pada mata ujian matematika yaitu 1,08. Hal ini harus menjadi perhatian karena pada mata ujian matematika memiliki variasi lebih dari satu. Bila ditinjau dari sisi range (jarak) nilai tertinggi dan terendah, pada setiap mata ujian  masih terdapat siswa yang memiliki nilai rendah padahal nilai tertinggi yang didapat siswa adalah 10,00. Ini berarti masih terdapat siswa yang secara kompetensi masih rendah pada setiap mata pelajaran.
Untuk mengatasi hal tersebut, upaya yang dapat dilakukan antara lain : (1) peningkatan kualitas guru dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep-konsep materi pelajaran; (2) menyediakan sarana prasarana pendukung seperti ruang laboratorium dan perlengkapannya; dan (3) pengayaan materi-materi pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa.
a.    Gambaran Hasil UN Setiap Mata Ujian
Secara umum, nilai rata-rata mata ujian yang rendah dan menyebabkan ketidaklulusan siswa adalah matematika dan IPA. Hal ini berarti perlu perhatian khusus pada mata pelajaran tersebut agar hasil UN tahun berikutnya dapat lebih baik. Sedangkan nilai rata-rata tertinggi terdapat pada mata ujian bahasa Inggris. Pada tabel 5 juga dapat dilihat bahwa untuk propinsi Bangka Belitung seluruh mata ujian nasional tahun 2011 memiliki nilai terendah, hal ini harus menjadi perhatian khusus pihak terkait khususnya Kemenag Propinsi Bangka Belitung dalam meningkatkan kualitas pembelajaran 4 mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional. Berikut analisis hasil ujian setiap mata pelajaran :
1)     Bahasa Indonesia
Nilai rata-rata tertinggi untuk mata pelajaran bahasa Indonesia diperoleh propinsi Jawa Timur yaitu 8,41, selanjutnya adalah propinsi Sumatera Utara dan DI Yogyakarta nilai rata-rata 8,36 dan 8,28. Sedangkan nilai rata-rata terendah adalah propinsi Nusa Tenggara Timur dan Bangka Belitung dengan nilai rata-rata 7,30 dan 7,32. Seluruh propinsi memiliki nilai rata-rata di atas 7,00, hal ini berarti  keberhasilan mata pelajaran B. Indonesia sudah sangat baik.











Tabel 5. Hasil Ujian Nasional MTs setiap Propinsi Tahun 2012


1)     Bahasa Inggris
Pada mata ujian bahasa Inggris, nilai rata-rata tertinggi diperoleh propinsi Sulawesi Selatan yaitu 8,09, selanjutnya adalah propinsi Sulawesi Utara dan Sumatera Utara Timur dengan nilai rata-rata 7,85 dan 7,71. Sedangkan nilai rata-rata terendah adalah propinsi DI Yogyakarta, Bangka Belitung dan Kalimantan Timur dengan nilai rata-rata 5,04, 5,27 dan 5,80. Hanya 1 propinsi yang memiliki rata-rata di atas 8 yaitu propinsi Sulawesi Selatan.

2)     Matematika
Nilai rata-rata tertinggi untuk mata ujian matematika diperoleh propinsi Sulawesi Selatan dengan nilai rata-rata 8,59 kemudian propinsi Sumatera Utara, Jawa Timur dengan nilai 8,45 dan 8,24. Sementara nilai terendah adalah propinsi DI Yogyakarta, Bangka Belitung, dan Kalimantan Timur dengan nilai rata-rata 5,24, 5,49 dan 6,27.

3)     Ilmu Pengetahuan Alam
Pada mata pelajaran IPA, nilai rata-rata tertinggi diperoleh propinsi Sulawesi Selatan dengan nilai 8,60, kemudian propinsi Sumatera Utara dan Aceh dengan nilai 8,22 dan 8,15. Sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada propinsi Bangka Belitung dan DI Yogyakarta dengan nilai 5,57 dan 5,74. Hal yang menarik dan harus menjadi bahan evaluasi karena hanya 2 propinsi yang mempunyai nilai UN IPA lebih kecil dari 6.00.


1.         Kesimpulan
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa analisis hasil ujian nasional merupakan peta atau kondisi pendidikan di madrasah tsanawiyah saat ini. Peta tersebut merupakan informasi yang perlu dikaji secara mendalam oleh para pengambil kebijakan  di tingkat pusat dan daerah sebagai salah satu masukan atau dasar dalam memperbaiki mutu pendidikan Islam. Secara umum kesimpulan yang dapat ditarik dari analisis hasil ujian nasional MTs adalah sebagai berikut :
·  Terjadi penurunan peningkatan jumlah peserta UN setiap tahunnya dari meningkat 5,45% pada tahun 2008 hingga hanya menjadi 1,32% pada tahun 2011, bahkan di tahun 2012 terjadi penurunan sebesar 0,85%. Dan bila dibandingkan dengan perkembangan jumlah lembaga MTs, trend penurunan peningkatan jumlah peserta UN tersebut perlu menjadi perhatian pihak terkait untuk mengetahui penyebab trend penurunan peningkatan jumlah peserta UN tingkat MTs karena hal ini berbanding terbalik dengan jumlah lembaga, peningkatan jumlah lembaga MTs mengalami peningkatan setiap tahunnya, dari meningkat 2,09% pada tahun 2008 hingga di tahun 2011 jumlah lembaga MTs meningkat lebih dari 5% yaitu 5,21%.
·  Kelulusan peserta Ujian Nasional tingkat MTs selalu meningkat setiap tahun baik pada negeri maupun swasta. Tahun 2012 tercatat tingkat kelulusan siswa peserta ujian nasional terbesar selama ini yaitu mencapai angka kelulusan 99.69%.
·  Pada tiga tahun terakhir (2010-2012) tingkat kelulusan siswa MTs Swasta lebih tinggi dibandingkan MTs Negeri. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan yang semakin baik di tingkat MTs Swasta dan juga menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah terhadap madrasah swasta dalam upaya meningkatkan mutu madrasah telah memperoleh hasil yang cukup baik.
·  Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan yang semakin baik di tingkat MTs Swasta dan juga menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah terhadap madrasah swasta dalam upaya meningkatkan mutu madrasah telah memperoleh hasil yang cukup baik. Hal tersebut diperkuat dengan fakta bahwa 10 besar MTs dengan nilai rata-rata UN tertinggi pada tahun 2012 adalah MTs Swasta.
·  Semua mata ujian termasuk klasifikasi sangat baik (A), kecuali B.Inggris (B) dilihat dari rata-rata nilai, nilai rata-rata terendah terdapat pada mata ujian bahasa Indonesia yaitu 7,29 sedangkan tertinggi pada mata ujian bahasa Indonesia yaitu 8,04.  Hasil Ujian Nasional MTs ini mengindikasikan secara umum siswa MTs sudah mencapai kompetensi yang baik pada mata pelajaran yang diujikan.
·  Pada jenjang pendidikan menengah pertama (MTs dan SMP),  sejak ujian nasional tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 jumlah kelulusan siswa MTs selalu lebih tinggi dibandingkan dengan SMP.  Hal ini bermakna bahwa MTs secara kualitas sudah dapat bersaing dengan sekolah umum (SMP).
·  Hal yang menarik dan harus menjadi bahan evaluasi pada mata ujian IPA adalah hanya ada hanya 2 propinsi yang mempunyai nilai UN IPA lebih kecil dari 6.00, yaitu Bangka Belitung dan DI Yogyakarta.

2.         Bahan Bacaan
·  Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2007-2012
·  Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 tentang Ujian Nasional
·  Statistik Pendidikan Islam Tahun 2007-2010
·  Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar