1.1. Latar Belakang
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Keputusan Mendiknas No 153/U/2003 tentang
Ujian Akhir Nasional (UAN) merupakan dasar penyelenggaraan Ujian Akhir Nasional
(UAN) yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Mutu pendidikan nasional dan pengajaran perlu dipantau terus-menerus dalam
setiap tahap dan langkah kegiatan pendidikan. Pantauan
itu ditujukan sebagai upaya pengendalian mutu pendidikan dan lebih jauh sebagai
penjaminan mutu pendidikan. Upaya inilah yang dimaksud dalam UU No. 20 tahun
2003 dan Kepmendiknas No. 153/U/2003 dan dikenal dengan Ujian Akhir Nasional
(UAN/UN). UN merupakan fungsi pengendalian mutu pendidikan (educational quality control) dan fungsi
penjaminan mutu pendidikan (educational
quality assurance).
Hasil UN digunakan sebagai salah satu
pertimbangan untuk; (1) Pemetaan
mutu satuan dan/atau program pendidikan; (2) Seleksi masuk jenjang pendidikan
berikutnya; (3) Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan
pendidikan; (4) Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam
upaya peningkatan mutu pendidikan (Permendiknas No. 34/2007)
Kebijakan penyelenggaraan UAN menimbulkan pro dan kontra di kalangan
masyarakat. Meskipun terjadi beberapa kesenjangan dan kontroversi di kalangan
pakar pendidikan, pendidik/guru, siswa dan masyarakat namun tidak menggoyahkan
niat pemerintah untuk tetap melaksanakan UAN.
Tahun 2003
merupakan awal dilaksanakannya UAN untuk tingkat SMA/MA dengan persyaratan
minimal nilai kelulusan 3,01, yang artinya nilai di bawah 3,01 dinyatakan tidak
lulus. Kemudian untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, standar kelulusan
dinaikkan menjadi 4,01 dan sebenarnya standar kelulusan ini masih lebih rendah
dibanding negara-negara lain. Pada tahun 2005 UAN diganti dengan UN dan
menaikkan standar kelulusan menjadi 4,25. Kemudian tahun 2006, standar
kelulusan dinaikkan lagi menjadi 4,50.
Ujian
Nasional tahun 2007 terjadi beberapa perubahan tentang standar kelulusan yaitu
harus memiliki nilai rata-rata seluruh mata pelajaran yang diujikan minimal
5,00 dengan nilai tiap mata pelajaran tidak ada di bawah 4,25. Kalaupun
memiliki nilai 4,00 pada salah satu mata pelajaran yang diujikan, nilai dua
mata pelajaran lainnya yang diujikan harus 6,00. sedangkan di tingkat SMK harus
menggunakan ujian kompetensi. Semakin ruwet saja standar kelulusan tahun 2007,
namun pemerintah merasa standar ini lebih luwes karena ada beberapa kategori
yang dinyatakan lulus. Namun tidak akan diadakan ujian ulang bagi siswa yang
tidak lulus berarti mereka harus menempuh ujian paket B dan C.
Pada UN
tahun 2008, mata pelajaran yang diujikan untuk tingkat SMA/MA bertambah menjadi
6 mata pelajaran. Untuk program IPA, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa
Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Pada program
IPS, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Pada program Bahasa, mata
pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika,
Sastra Indonesia, Antropologi, dan Bahasa Asing lainnya. Pada program Agama,
mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, Tafsir, Hadits, dan Tasawuf.
Madrasah
Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah juga memerlukan
upaya pengendalian, penjaminan dan penilaian mutu dan kualitas. Sebagai upaya
penilaian mutu dan kualitas Madrasah Aliyah Negeri, pada tulisan ini akan
dilakukan analisis hasil ujian nasional pada Madrasah Aliyah Negeri seluruh
Indonesia tahun 2008.
1.2. Tujuan
Analisis hasil ujian nasional Madrasah Aliyah Negeri
tahun 2008 bertujuan untuk :
1. Membandingkan angka ketidaklulusan siswa Madrasah Aliyah
Negeri pada ujian nasional tahun 2007 dan 2008.
2. Membandingkan hasil ujian nasional tahun 2008 antara Madrasah
Aliyah Negeri dan Sekolah Menengah Atas Negeri
3. Mendeskripsikan angka ketidaklulusan siswa Madrasah
Aliyah Negeri pada ujian nasional tahun 2008 setiap propinsi.
4. Mendeskripsikan karakteristik nilai ujian nasional Madrasah
Aliyah Negeri tahun 2008.
1. Bahan
dan Metodologi
2.1. Bahan
Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri
tahun 2008 menggunakan data sekunder yang berasal dari Pusat Penilaian
Pendidikan (Puspendik) Departemen Pendidikan Nasional yang berisikan
hasil-hasil ujian nasional pada semua jenjang pendidikan mulai dari SD/MI,
SMP/MTs, dan SMA/K/MA dan data Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun
2008. Hasil ujian nasional tersebut meliputi angka ketidaklulusan siswa peserta
UN setiap propinsi pada setiap program studi yang diikutinya. Juga terdapat
nilai rata-rata ujian setiap mata pelajaran di setiap propinsi dan program
studi. Daftar lengkap dapat dilihat pada lampiran 1.
2.2. Metodologi
Analisis yang digunakan adalah analisis statistika
deskriptif dan analisis Biplot menggunakan fasilitas software Microsoft Excel
dan SPSS versi 14.00.
3. Hasil dan Pembahasan
Ujian Nasional tahun 2008 pada jenjang Madrasah Aliyah
Negeri diikuti oleh 94.469 orang siswa. Jumlah siswa terbanyak berasal dari
propinsi Jawa Timur yaitu 16.446 siswa, kemudian propinsi Jawa Tengah berjumlah
13.603 siswa dan propinsi Jawa Barat berjumlah 11.259 siswa. Jumlah siswa
peserta UN paling sedikit untuk jenjang Madrasah Aliyah Negeri adalah propinsi
Papua Barat berjumlah 181 orang siswa.
Gambar 1. Jumlah Peserta Ujian Nasional 2008
Dari jumlah 94.469 orang siswa peserta UN tahun 2008
tersebut mayoritas berasal dari program
IPS yaitu 49.453 siswa, kemudian siswa program IPA berjumlah 38.495 siswa, siswa program Bahasa berjumlah 5.603 siswa,
dan terakhir siswa program Agama berjumlah 918 siswa.
3.1. Ketidaklulusan Siswa pada Ujian Nasional Tahun 2007
dan 2008.
Pada Ujian Nasional tahun 2008 secara keseluruhan
terdapat 8.015 (8,48%) siswa Madrasah
Aliyah Negeri yang tidak lulus UN. Dari jumlah tersebut persentase siswa yang
tidak lulus terbesar terdapat pada siswa program Agama yaitu sebanyak 116 (12,64%) siswa dari 918 siswa peserta UN.
Selanjutnya adalah siswa program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yaitu sebanyak
4.953 (10,02%) siswa dari 49.453
siswa peserta UN. Kemudian adalah siswa program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
yaitu sebanyak 2.612 (6,79%) siswa
dari 38.495 siswa peserta UN. Dan terakhir adalah siswa program Bahasa yaitu
sebanyak 334 (5,96%) siswa dari 5.603
siswa peserta UN. Secara grafis hal tersebut ditunjukkan pada gambar 2.
Gambar 2. Siswa MAN yang Tidak Lulus UN 2008
Fakta ini
menunjukkan terdapat kenaikan ketidaklulusan siswa Madrasah Aliyah Negeri pada
tahun 2008 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada UN 2007 tercatat sejumlah 7,49%
siswa MAN tidak lulus UN, sedangkan pada UN tahun 2008 siswa MAN tidak lulus
berjumlah 8,48%. Lebih jelas ditampilkan pada gambar 3 berikut :
Jika dibandingkan antara Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN), maka dapat dilihat bahwa persentase siswa
tidak lulus di MAN lebih banyak pada program IPA dan IPS, sedangkan pada
program Bahasa tingkat ketidaklulusan siswa di MAN lebih sedikit dibandingkan
dengan SMAN. Pada program Bahasa siswa MAN yang tidak lulus adalah 5,96%
sedangkan di SMAN berjumlah 8,48%. Lebih lengkap dapat dilihat pada gambar 4
berikut :
3.2. Perbandingan Hasil Ujian Nasional Madrasah Aliyah
Negeri dan Sekolah Menengah Atas Negeri Tahun 2008.
Nilai rata-rata ujian nasional siswa Madrasah Aliyah
Negeri (MAN) untuk setiap mata ujian program IPA ternyata lebih rendah
dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian nasional siswa Sekolah Menengah Atas
Negeri (SMAN). Hal ini mengindikasikan untuk program IPA, secara umum dapat
disimpulkan kualitas siswa SMAN relatif
lebih baik dibandingkan siswa MAN (Tabel 1). Tingkat ketidaklulusan siswa MAN
pun lebih tinggi dibandingkan dengan siswa SMAN yaitu 6,79% berbanding 4,32%.
Tabel 1. Perbandingan
Hasil Ujian Nasional Program IPA antara MAN dan SMAN
Demikian pula untuk program IPS, nilai rata-rata ujian
nasional siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) untuk setiap mata ujian program IPS
ternyata lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian nasional siswa Sekolah
Menengah Atas Negeri (SMAN). Hal ini mengindikasikan untuk program IPS, secara
umum dapat disimpulkan kualitas siswa SMAN relatif lebih baik dibandingkan
siswa MAN (Tabel 2). Tingkat ketidaklulusan siswa MAN pun lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa SMAN yaitu 10,02% berbanding 9,09%.
Tabel 2. Perbandingan Hasil Ujian Nasional
Program IPS antara MAN dan SMAN
Tabel 3. Perbandingan Hasil Ujian Nasional Program Bahasa
antara MAN dan SMAN
Pada UN 2008,
ketidaklulusan siswa terbesar terdapat pada propinsi Kalimantan Barat yaitu
sebanyak 453 (36,86%) siswa
dari 1.229 siswa peserta UN. Kemudian propinsi Sulawesi Tengah yaitu sebanyak
275 (30,42%) siswa dari 904 siswa peserta UN. Sedangkan ketidaklulusan paling
sedikit terdapat pada propinsi Papua Barat, yaitu dari 181 siswa peserta UN
seluruhnya lulus.
Gambar 5. Siswa yang Tidak Lulus UN 2008 Setiap Propinsi
Gambar 5 menunjukkan siswa tidak lulus terbanyak terdapat
di propinsi Kalimantan Barat, kemudian Sulawesi Tengah, NTB, Bangka Belitung,
NTT, Bengkulu, Kepulauan Riau dan Nanggroe Aceh Darussalam dengan
ketidaklulusan di atas 20% (Tabel 4). Propinsi Papua Barat merupakan propinsi
dengan siswa tidak lulus terendah yaitu 0%.
Bila dilihat berdasarkan program studinya, pada program
IPA siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Kalimantan Barat yaitu
berjumlah 135 (40,79%) siswa dari 331 siswa peserta UN. Sedangkan persentase
terendah siswa yang tidak lulus UN pada program IPA terdapat pada propinsi
Sulawesi Utara dan Papua Barat yaitu 0%.
Siswa tidak lulus
pada program IPS terbanyak terdapat di propinsi Sulawesi Tengah yaitu
berjumlah 217 (42,80%) siswa dari 507 siswa peserta UN. Sedangkan persentase
terendah siswa yang tidak lulus UN pada program IPS terdapat pada propinsi
Papua Barat yaitu 0%.
Tabel 4. Ketidaklulusan
UN Tahun 2008 setiap Propinsi
Propinsi Nusa Tenggara Barat merupakan propinsi dengan
siswa tidak lulus terbanyak pada program Agama yaitu berjumlah 15 (40,54%)
siswa dari 37 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak
lulus UN pada program Agama terdapat pada propinsi DKI Jakarta, Jatim, Lampung,
dan Sulut yaitu 0%.
3.4. Karakteristik Nilai Ujian Nasional Madrasah Aliyah Negeri.
Karakteristik
nilai ujian nasional bisa dilakukan dengan analis biplot. Analisis Biplot
merupakan upaya penampilan grafis dua dimensi terhadap tabel dengan banyak
variabel. Ada tiga hal penting yang bisa didapatkan dari tampilan biplot yaitu
; (1) kedekatan antar objek : dimana informasi ini bisa dijadikan panduan objek
mana yang memiliki kemiripan karakteristik dengan objek tertentu; (2) keragaman
variabel : informasi ini digunakan untuk melihat apakah ada variabel tertentu
yang nilainya hampir sama untuk setiap objek, atau sebaliknya bahwa nilai dari
setiap objek ada yang sangat besar dan ada juga yang sangat kecil; (3) Korelasi
antar variabel : informasi ini bisa digunakan untuk menilai bagaimana variabel
yang satu mempengaruhi/dipengaruhi variabel yang lain.
Karena biplot
adalah upaya membuat gambar di ruang berdimensi banyak menjadi gambar di ruang
dimensi dua. Pereduksian dimensi ini mempunyai konsekuensi menurunnya besar
informasi yang terkandung dalam biplot.
3.4.1.
Program IPA
Pada hasil ujian nasional program IPA, analisis Biplot
memberikan gambaran terdapat dua kelompok propinsi yang terbentuk (Gambar 6). Kelompok pertama adalah Jateng, Gorontalo,
Kaltim, Lampung, DKI Jakarta, Jatim, Bali, Jabar, Sulsel, Banten, Sumut,
Sumsel, Riau, Sulut dan Sultra. Di kelompok kedua adalah DIY, Kepulauan Riau,
NTT, Kalbar, Babel, Bengkulu, Sumbar, Kalteng, NTB, Sulbar, Maluku, Jambi,
Maluku Utara, NAD, dan Sulteng.
Bila diperhatikan lebih lanjut pengelompokan propinsi tersebut
dapat dibedakan berdasarkan total nilai ujian nasional. Propinsi-propinsi yang
berada di kelompok satu mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan propinsi-propinsi
yang berada di kelompok dua.
Gambar 6. Biplot Hasil UN Program IPA
Vektor variabel nilai Bahasa Indonesia dan Matematika
membentuk sudut tumpul hampir 180 derajat, hal ini menunjukkan kedua variabel
tersebut berkorelasi negatif. Yang berarti propinsi yang nilai Bahasa
Indonesianya tinggi relatif memiliki nilai Matematika yang rendah, begitupun
sebaliknya.
3.4.2.
Program IPS
Pada hasil ujian nasional program IPS, analisis Biplot
memberikan gambaran terdapat tiga kelompok propinsi yang terbentuk (Gambar 7). Kelompok pertama adalah Jatim, Jabar, Kaltim,
DKI Jakarta, dan Sulsel. Di kelompok kedua adalah propinsi Gorontalo, Sumsel,
Lampung, Banten, Jambi, Sulut, dan Papua Barat. Selainnya masuk dalam kelompok
ketiga seperti NTT, Sulteng, Kepulauan Riau, Sulbar dan lain-lain.
Gambar 7. Biplot Hasil UN Program IPS
Dari gambar 7 diketahui propinsi Jatim, Jabar, Kaltim,
DKI Jakarta, dan Sulsel memiliki nilai rata-rata Sosiologi relatif lebih baik
dibandingkan propinsi lain. Sedangkan propinsi Gorontalo, Sumsel, Lampung,
Banten, Jambi, Sulut, dan Papua Barat memiliki nilai Bahasa Inggris, Ekonomi,
dan Geografi lebih baik.
Vektor variabel
nilai Sosiologi dan Geografi membentuk sudut tumpul hampir 180 derajat, hal ini
menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi negatif. Yang berarti propinsi
yang nilai Sosiologinya tinggi relatif memiliki nilai Geografi yang rendah,
begitupun sebaliknya.
3.4.3 Program
Bahasa
Pada hasil ujian nasional program Bahasa, analisis Biplot
memberikan gambaran terdapat tiga kelompok propinsi yang terbentuk (Gambar 8). Kelompok pertama adalah Sulawesi Tengah,
Gorontalo, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, DIY,
Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Di kelompok kedua yaitu Sulawesi Barat,
Kalimantan Selatan, Papua Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Kalimantan
Tengah, Bengkulu, dan NTB. Selainnya masuk kelompok Ketiga yaitu Maluku, Riau,
Jambi, Sulawesi Utara, NTT, Maluku Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Gambar 8. Biplot Hasil UN Program Bahasa
Dari gambar 8 diketahui propinsi DKI Jakarta, Jawa Timur,
dan Bali memiliki nilai rata-rata Bahasa Asing dan Bahasa Inggris lebih baik
dibandingkan propinsi lain. Sedangkan propinsi DIY dan Sulsel memiliki nilai
rata-rata lebih baik pada mata ujian Matematika dan Sastra.
Vektor variabel
nilai Antropologi dan Matematika membentuk sudut tumpul hampir 180 derajat, hal
ini menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi negatif. Yang berarti
propinsi yang nilai Antropologinya tinggi relatif memiliki nilai Matematika
yang rendah, begitupun sebaliknya.
Panjang vektor nilai ujian Antropologi
dan Matematika relatif lebih panjang dibandingkan mata ujian yang lain, yang
berarti nilai rata-rata Antropologi dan Matematika lebih beragam dibandingkan
mata ujian yang yang lain.
3.4.3 Program
Agama
Madrasah Aliyah Negeri yang menyelenggarakan program Agama
hanya terdapat pada 12 propinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Riau, Jambi, Lampung, Kalbar, Kalsel, Sulawesi Utara, Sulawesi
Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.
Gambar 9. Biplot Hasil UN Program Bahasa
Pada hasil ujian nasional program Bahasa, analisis Biplot
memberikan gambaran terdapat dua kelompok propinsi yang terbentuk (Gambar 9).
Kelompok pertama yaitu propinsi Lampung, Jambi, Jabar, Jatim, dan Sulut.
Selainnya yaitu Sumbar, Riau, Sumut, Kalbar, Kalsel, Sulteng dan NTB masuk
kelompok kedua.
Propinsi Sulawesi
Utara relatif memiliki nilai ujian Matematika lebih baik dibandingkan propinsi
lain. Vektor nilai bahasa Inggris dan Tasawuf membentuk sudut tumpul hampir 180
derajat, hal ini menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi negatif. Yang
berarti propinsi yang nilai Antropologinya tinggi relatif memiliki nilai Matematika
yang rendah, begitupun sebaliknya.
Panjang vektor
nilai ujian Bahasa Inggris, Matematika dan Tasawuf relatif lebih panjang
dibandingkan mata ujian yang lain, yang berarti nilai rata-rata Bahasa Inggris,
Matematika dan Tasawuf lebih beragam dibandingkan mata ujian yang yang lain.
4. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis hasil ujian
nasional Madrasah Aliyah Negeri tahun 2008 ini adalah :
·
Persentase
siswa yang tidak lulus terbesar terdapat pada siswa MAN program Agama yaitu
sebanyak 116 (12,64%) siswa dari 918
siswa peserta UN. Selanjutnya adalah siswa program Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS) yaitu sebanyak 4.953 (10,02%)
siswa dari 49.453 siswa peserta UN. Kemudian adalah siswa program Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) yaitu sebanyak 2.612 (6,79%) siswa dari 38.495 siswa peserta UN. Dan terakhir adalah
siswa program Bahasa yaitu sebanyak 334 (5,96%)
siswa dari 5.603 siswa peserta UN.
·
Pada
UN 2008, ketidaklulusan siswa terbesar terdapat pada propinsi Kalimantan Barat
yaitu sebanyak 453 (36,86%) siswa dari 1.229 siswa peserta UN. Kemudian
propinsi Sulawesi Tengah yaitu sebanyak 275 (30,42%) siswa dari 904 siswa
peserta UN. Sedangkan ketidaklulusan terendah terdapat pada propinsi Papua
Barat, yaitu dari 181 siswa peserta UN seluruhnya lulus.
·
Terdapat
kenaikan ketidaklulusan siswa Madrasah Aliyah Negeri pada tahun 2008
dibandingkan tahun sebelumnya. Pada UN 2007 tercatat sejumlah 7,49% siswa MAN
tidak lulus UN, sedangkan pada UN tahun 2008 siswa MAN tidak lulus berjumlah
8,48%.
·
Siswa
MAN program Bahasa relatif mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan siswa
SMAN yang ditunjukkan oleh nilai hasil ujian nasional dan tingkat kelulusan
yang lebih baik. Sedangkan untuk program IPA dan IPS siswa SMAN relatif
mempunyai kualitas lebih baik.
·
Pada
program IPA siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Kalimantan Barat
yait u berjumlah 135 (40,79%) siswa dari 331 siswa peserta UN. Sedangkan
persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program IPA terdapat pada
propinsi Sulawesi Utara dan Papua Barat yaitu 0%.
·
Siswa
tidak lulus pada program IPS terbanyak
terdapat di propinsi Sulawesi Tengah yaitu berjumlah 217 (42,80%) siswa dari
507 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN
pada program IPS terdapat pada propinsi Papua Barat yaitu 0%.
·
Pada
program Bahasa siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Maluku yaitu
berjumlah 12 (42,86%) siswa dari 28 siswa peserta UN. Sedangkan persentase terendah
siswa yang tidak lulus UN pada program Bahasa terdapat pada propinsi DI Yogyakarta,
Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Bali, Banten, Sulawesi Barat,
dan Papua Barat yaitu 0%.
·
Propinsi
Nusa Tenggara Barat merupakan propinsi dengan siswa tidak lulus terbanyak pada
program Agama yaitu berjumlah 15 (40,54%) siswa dari 37 siswa peserta UN.
Sedangkan persentase terendah siswa yang tidak lulus UN pada program Agama
terdapat pada propinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Lampung, dan Sulawesi Utara
yaitu 0%.
·
Pada
program IPA, propinsi Jawa Tengah, Gorontalo, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa
Barat, dan Bali relatif memiliki nilai Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia
lebih baik dibandingkan dengan propinsi lain. Sedangkan propinsi Sumatera
Utara, Riau, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Selatan relatif memiliki nilai
Biologi dan Kimia lebih baik dibandingkan propinsi lain.
·
Pada
program Bahasa, propinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Bali memiliki nilai
rata-rata Bahasa Asing dan Bahasa Inggris lebih baik dibandingkan propinsi
lain. Sedangkan propinsi DI Yogyakarta dan Sulawesi Selatan memiliki nilai
rata-rata lebih baik pada mata ujian Matematika dan Sastra.
5. Daftar
Bacaan
Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama. 2007/2008. Statistik Pendidikan
Agama dan Keagamaan. Jakarta. Depag.
Departemen Statistika FMIPA IPB. 2006. Analisis Peubah
Ganda. Bogor. FMIPA IPB.
Keputusan Mendiknas No 153/U/2003 tentang Ujian Akhir
Nasional (UAN).
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34/2007 tentang
Ujian Nasional.
Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan
Nasional. 2007. Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007.
Jakarta. Depdiknas.
Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan
Nasional. 2008. Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2007/2008.
Jakarta. Depdiknas
Tatham. Ronald. L,
Anderson. Rolph.E, & Hair. Joseph. E. 1987. Multivariate Data Analysis. Second Edition. New York: Macmillan Publishing Company.
Undang-Undang
nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Universitas Negeri Yogyakarta. 2007. Sejarah Ujian
Nasional. Yogyakarta. UNY










Tidak ada komentar:
Posting Komentar