Senin, 22 Desember 2014

Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Tahun 2008



1.  Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Sebagai jenjang terakhir dalam program Wajib Belajar 9 Tahun Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas). Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan siswa untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Dalam pasal 17 Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
          Dengan demikian jenjang pendidikan dasar merupakan tahapan yang sangat penting dalam upaya pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan. Mutu pendidikan nasional dan pengajaran perlu dipantau terus-menerus dalam setiap tahap dan langkah kegiatan pendidikan. Pantauan itu ditujukan sebagai upaya pengendalian mutu pendidikan dan lebih jauh sebagai penjaminan mutu pendidikan. Upaya inilah yang dimaksud dalam UU No. 20 tahun 2003 dan Kepmendiknas No. 153/U/2003 dan dikenal dengan Ujian Akhir Nasional (UAN/UN). UN merupakan fungsi pengendalian mutu pendidikan (educational quality control) dan fungsi penjaminan mutu pendidikan (educational quality assurance).
          Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk; (1)      Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; (2) Seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (3) Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (4) Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan (Permendiknas No. 34/2007)
Pada UN tahun 2008, mata pelajaran yang diujikan untuk jenjang MTs/SMP adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sebagai upaya penilaian dan evaluasi ujian nasional pada tingkat Madrasah Tsanawiyah, pada tulisan ini akan dilakukan analisis hasil ujian nasional pada Madrasah Tsanawiyah seluruh Indonesia tahun 2008.



1.2. Tujuan
            Analisis hasil ujian nasional Madrasah Tsanawiyah tahun 2008 bertujuan untuk:
1.     Membandingkan hasil ujian nasional tahun 2008 antara Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Pertama.
2.     Mendeskripsikan angka ketidaklulusan siswa Tsanawiyah pada ujian nasional tahun 2008 setiap propinsi.
3.     Mendeskripsikan karakteristik nilai ujian nasional Madrasah Tsanawiyah tahun 2008.

2.    Bahan dan Metodologi
2.1. Bahan
Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah (MTs) tahun 2008 menggunakan data sekunder yang berasal dari Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Departemen Pendidikan Nasional yang berisikan hasil-hasil ujian nasional pada semua jenjang pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/K/MA dan data Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun 2003–2008. Hasil ujian nasional tersebut meliputi angka ketidaklulusan siswa peserta UN setiap propinsi pada setiap program studi yang diikutinya. Juga terdapat nilai rata-rata ujian setiap mata pelajaran di setiap propinsi dan program studi. Daftar lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2.

2.2. Metodologi
Analisis yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif, analisis cluster dan analisis Biplot menggunakan fasilitas software Microsoft Excel, Minitab versi 14.00 dan SPSS versi 14.00.
3. Hasil dan Pembahasan
Perkembangan jumlah lembaga Madrasah Tsanawiyah (MTs) semakin meningkat setiap tahun. Selama kurun waktu tahun 2003 sampai 2008 lembaga MTs bertambah rata-rata 2,43% setiap tahun. Sedangkan jumlah siswa MTs bertambah rata-rata 3,05% setiap tahun (Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan 2003-2008). Sedangkan kontribusi lembaga dan jumlah siswa MTs terhadap pendidikan nasional jenjang SMP/MTs adalah 34,29% dan 21,76%.
Gambar 1. Perkembangan Jumlah Lembaga dan Siswa MTs 2003-2008

Ujian Nasional tahun 2008 pada jenjang MTs diikuti oleh 693.298 orang siswa. Jumlah siswa terbanyak berasal dari propinsi Jawa Timur yaitu 136.667 siswa, kemudian propinsi Jawa Barat berjumlah 130.266 siswa dan propinsi Jawa Timur berjumlah 110.917 siswa. Jumlah siswa peserta UN terkecil untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah adalah propinsi Papua berjumlah 357 orang siswa.
Dari jumlah 693.298 orang siswa tersebut, 167.343 orang (24,14%) merupakan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan 525.955 orang (75,86%) merupakan siswa Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS). Jumlah siswa peserta Ujian Nasional MTsS lebih banyak dibandingkan dengan MTsN, hal ini berbanding lurus dengan jumlah lembaga MTs yang mayoritas adalah lembaga swasta dibandingkan negeri yaitu 90,23% : 9,77%. (Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan 2008)






Gambar 2. Jumlah Peserta Ujian Nasional Jenjang MTs Tahun 2008


3.1.    Perbandingan Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Pertama Tahun 2008.
Nilai rata-rata ujian nasional siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian nasional siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kecuali untuk mata ujian Bahasa Inggris. Pada mata ujian Bahasa Inggris, nilai rata-rata ujian nasional siswa SMP lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata ujian nasional siswa MTs baik pada lembaga negeri maupun swasta (Tabel 1).
Angka ketidaklulusan siswa MTs pada ujian nasional tahun 2008 relatif lebih rendah dibandingkan siswa SMP yaitu 5,61% berbanding 7,17%. Hal yang sama juga terjadi pada MTsN dan MTsS yang mempunyai angka ketidaklulusan lebih rendah dibanding SMPN dan SMPS. Hal ini mengindikasikan secara umum kualitas siswa MTs relatif lebih baik dibanding siswa SMP.




Tabel 1. Perbandingan Hasil Ujian Nasional MTs dan SMP

Secara umum juga dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas MTsN/SMPN relatif lebih baik dibandingkan dengan MTsS/SMPS, hal ini terlihat dari angka ketidaklulusan siswa lembaga negeri lebih rendah dibanding lembaga swasta. Pada Sekolah Menengah Pertama terdapat selisih ketidaklulusan yang relatif tinggi antara lembaga negeri dan swasta yaitu 6,41% : 9,31%. Sedangkan pada Madrasah Tsanawiyah, selisih ketidaklulusan relatif rendah yaitu 5,24% : 5,72%. Hal ini mengindikasikan terdapat variasi kualitas yang lebih tinggi pada lembaga SMP dibandingkan dengan MTs.

 


Gambar 3. Perbandingan Angka Ketidaklulusan UN Siswa MTs dan SMP Tahun 2008




3.1.    Perbandingan Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Setiap Propinsi
Pada ujian nasional tahun 2008, ketidaklulusan siswa MTs terbesar terdapat pada propinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 976 (47,75%) siswa, selanjutnya adalah propinsi Kalimantan Barat sebanyak 2.271 (33,41%) siswa dan propinsi Bangka Belitung sebanyak 481 (30,79%) siswa peserta UN. Sedangkan ketidaklulusan terendah terdapat pada propinsi DKI Jakarta yaitu 0% atau semua siswa MTs peserta UN dinyatakan lulus.
Gambar 4 menunjukkan siswa tidak lulus terbanyak terdapat di propinsi Nusa Tenggara Timur, kemudian Kalimantan Barat, dan Bangka Belitung dengan ketidaklulusan di atas 20%. Sedangkan Propinsi DKI Jakarta merupakan propinsi dengan siswa tidak lulus terendah yaitu seluruh 13.633 siswa MTs peserta UN dinyatakan lulus atau ketidaklulusan 0% (Tabel 2).


Gambar 4. Siswa MTs yang Tidak Lulus UN 2008 Setiap Propinsi

Nilai rata-rata ujian nasional tertinggi pada jenjang MTs adalah propinsi Jawa Barat dengan total nilai rata-rata 29,81, kemudian di peringkat kedua dan ketiga adalah propinsi Bali dan Jawa Timur dengan total nilai rata-rata 29,77 dan 29,25. Sedangkan nilai rata-rata ujian nasional terendah pada jenjang MTs adalah propinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Bangka Belitung dengan total nilai rata-rata 20,80, 22,11 dan 22,62. Persentase siswa MTs tidak lulus tertinggi juga terdapat pada 3 propinsi ini. (Tabel 2)
Tabel 2. Nilai Rata-rata UN dan Ketidaklulusan Propinsi





Tabel 3. Pengelompokan Propinsi Berdasarkan Hasil UN MTs
 



Bila dianalisis lebih lanjut menggunakan analisis cluster berdasarkan nilai setiap mata ujian dan angka ketidaklulusan, maka hasil ujian nasional siswa MTs tahun 2008 setiap propinsi dapat dikelompokkan menjadi tiga cluster. Cluster pertama adalah propinsi DKI Jakarta (kode 1) dengan nilai rata-rata UN sebesar 28,22 dan 0% ketidaklulusan, cluster kedua adalah propinsi Jabar, Jateng, DIY, Jatim, NAD, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Lampung, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sultra, Maluku, Bali, NTB, Papua, Bengkulu, Malut, Gorontalo, Banten, Kepri, Sulbar, dan Papua Barat (kode 2 – 33) dengan nilai rata-rata UN berkisar antara 23,98 – 29,81 dan cluster ketiga adalah propinsi Kalbar, Babel, dan NTT (kode 13, 24, dan 28) dengan nilai rata-rata UN berkisar 20,8 – 22,62 dan ketidaklulusan di atas 20%.




Gambar 5. Dendogram Pengelompokan Propinsi Berdasarkan Hasil UN MTs

3.1.    Karakteristik Nilai Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah
Karakteristik nilai ujian nasional bisa dilakukan dengan analis biplot. Analisis Biplot merupakan upaya penampilan grafis dua dimensi terhadap tabel dengan banyak variabel. Ada tiga hal penting yang bisa didapatkan dari tampilan biplot yaitu ; (1) kedekatan antar objek : dimana informasi ini bisa dijadikan panduan objek mana yang memiliki kemiripan karakteristik dengan objek tertentu ; (2) keragaman variabel : informasi ini digunakan untuk melihat apakah ada variabel tertentu yang nilainya hampir sama untuk setiap objek, atau sebaliknya bahwa nilai dari setiap objek ada yang sangat besar dan ada juga yang sangat kecil ; (3) Korelasi antar variabel : informasi ini bisa digunakan untuk menilai bagaimana variabel yang satu mempengaruhi/dipengaruhi variabel yang lain.
 
Gambar 6. Biplot Hasil UN MTs

Karena biplot adalah upaya membuat gambar di ruang berdimensi banyak menjadi gambar di ruang dimensi dua. Pereduksian dimensi ini mempunyai konsekuensi menurunnya besar informasi yang terkandung dalam biplot.
Pada hasil ujian nasional siswa Madrasah Tsanawiyah, analisis biplot memberikan gambaran bahwa propinsi DKI, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia lebih baik dibandingkan propinsi lainnya. Sedangkan propinsi Sulawesi Barat, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia lebih rendah dibandingkan propinsi lainnya.
Propinsi Sumatera Utara, Gorontalo, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, dan Jawa Timur relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih baik dibanding propinsi lain. Sedangkan propinsi NTT, Kalbar, dan Bangka Belitung  relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih rendah dibanding propinsi lain.
Vektor variabel nilai Bahasa Inggris dan Matematika hampir berhimpitan, hal ini menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi positif. Yang berarti propinsi yang nilai Bahasa Inggris tinggi akan memiliki nilai Matematika yang tinggi pula.

4. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis hasil ujian nasional Madrasah Tsanawiyah tahun 2008 ini adalah :
·                     Nilai rata-rata ujian nasional siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian nasional siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kecuali untuk mata ujian Bahasa Inggris.
·                     Angka ketidaklulusan siswa MTs pada ujian nasional tahun 2008 relatif lebih rendah dibandingkan siswa SMP yaitu 5,61% berbanding 7,17%.
·                     Pada UN 2008, ketidaklulusan siswa MTs terbesar terdapat pada propinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 976 (47,75%) siswa, selanjutnya adalah propinsi Kalimantan Barat sebanyak 2.271 (33,41%) siswa dan propinsi Bangka Belitung sebanyak 481 (30,79%) siswa.
·                     Hasil ujian nasional siswa MTs tahun 2008 setiap propinsi dapat dikelompokkan menjadi tiga cluster. Cluster pertama adalah propinsi DKI Jakarta dengan nilai rata-rata UN sebesar 28,22 dan 0% ketidaklulusan, cluster kedua adalah propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Bali, Nusa Tenggara Bara, Papua, Bengkulu, Maluku Utara, Gorontalo, Banten, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat, dan Papua Barat dengan nilai rata-rata UN berkisar antara 23,98 – 29,81 dan cluster ketiga adalah propinsi Kalimantan Barat, Bangka Belitung, dan Nusa Tenggara Timur dengan nilai rata-rata UN berkisar 20,8 – 22,62 dan ketidaklulusan di atas 20%.
·                     Analisis Biplot memberikan gambaran bahwa propinsi DKI, DI Yogyakrta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali  relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia lebih baik dibandingkan propinsi lainnya. Sedangkan propinsi Sulawesi Barat, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia lebih rendah dibandingkan propinsi lainnya.
·                     Propinsi Sumatera Utara, Gorontalo, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, dan Jawa Timur relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih baik dibanding propinsi lain. Sedangkan propinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Bangka Belitung  relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih rendah dibanding propinsi lain.

5. Daftar Bacaan

Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama. Series 2001/2002 sd 2007/2008. Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan. Jakarta. Depag.

Departemen Statistika FMIPA IPB. 2006. Analisis Peubah Ganda. Bogor. FMIPA IPB.

Keputusan Mendiknas No 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional (UAN).

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34/2007 tentang Ujian Nasional.

Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007. Jakarta. Depdiknas.

Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2007/2008. Jakarta. Depdiknas

Tatham. Ronald. L, Anderson. Rolph.E, & Hair. Joseph. E. 1987. Multivariate Data Analysis. Second Edition. New York: Macmillan Publishing Company.

Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar