1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Sebagai jenjang terakhir dalam program Wajib Belajar 9
Tahun Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas). Jenjang Madrasah Tsanawiyah/Sekolah
Menengah Pertama (MTs/SMP) memiliki peranan yang sangat penting dalam
mempersiapkan siswa untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Dalam pasal
17 Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
disebutkan bahwa jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang yang melandasi
jenjang pendidikan menengah.
Dengan demikian jenjang pendidikan dasar merupakan tahapan yang sangat
penting dalam upaya pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan. Mutu
pendidikan nasional dan pengajaran perlu dipantau terus-menerus dalam setiap
tahap dan langkah kegiatan pendidikan. Pantauan itu ditujukan sebagai upaya
pengendalian mutu pendidikan dan lebih jauh sebagai penjaminan mutu pendidikan.
Upaya inilah yang dimaksud dalam UU No. 20 tahun 2003 dan Kepmendiknas No.
153/U/2003 dan dikenal dengan Ujian Akhir Nasional (UAN/UN). UN merupakan
fungsi pengendalian mutu pendidikan (educational
quality control) dan fungsi penjaminan mutu pendidikan (educational quality assurance).
Hasil UN digunakan sebagai salah satu
pertimbangan untuk; (1) Pemetaan
mutu satuan dan/atau program pendidikan; (2) Seleksi masuk jenjang pendidikan
berikutnya; (3) Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan
pendidikan; (4) Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam
upaya peningkatan mutu pendidikan (Permendiknas No. 34/2007)
Pada UN tahun 2008, mata pelajaran yang diujikan untuk jenjang
MTs/SMP adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Sebagai upaya penilaian dan evaluasi ujian nasional pada
tingkat Madrasah Tsanawiyah, pada tulisan ini akan dilakukan analisis hasil
ujian nasional pada Madrasah Tsanawiyah seluruh Indonesia tahun 2008.
1.2. Tujuan
Analisis hasil ujian
nasional Madrasah Tsanawiyah tahun 2008 bertujuan untuk:
1. Membandingkan
hasil ujian nasional tahun 2008 antara Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah
Pertama.
2. Mendeskripsikan
angka ketidaklulusan siswa Tsanawiyah pada ujian nasional tahun 2008 setiap
propinsi.
3. Mendeskripsikan karakteristik nilai ujian nasional
Madrasah Tsanawiyah tahun 2008.
2. Bahan
dan Metodologi
2.1. Bahan
Analisis Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah (MTs) tahun
2008 menggunakan data sekunder yang berasal dari Pusat Penilaian Pendidikan
(Puspendik) Departemen Pendidikan Nasional yang berisikan hasil-hasil ujian
nasional pada semua jenjang pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/K/MA
dan data Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun 2003–2008. Hasil ujian
nasional tersebut meliputi angka ketidaklulusan siswa peserta UN setiap
propinsi pada setiap program studi yang diikutinya. Juga terdapat nilai
rata-rata ujian setiap mata pelajaran di setiap propinsi dan program studi.
Daftar lengkap dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2.
2.2. Metodologi
Analisis yang digunakan adalah analisis statistika
deskriptif, analisis cluster dan analisis Biplot menggunakan fasilitas software
Microsoft Excel, Minitab versi 14.00 dan SPSS versi 14.00.
3. Hasil dan Pembahasan
Perkembangan jumlah lembaga Madrasah Tsanawiyah (MTs)
semakin meningkat setiap tahun. Selama kurun waktu tahun 2003 sampai 2008
lembaga MTs bertambah rata-rata 2,43% setiap tahun. Sedangkan jumlah siswa MTs
bertambah rata-rata 3,05% setiap tahun (Statistik Pendidikan Agama dan
Keagamaan 2003-2008). Sedangkan kontribusi lembaga dan jumlah siswa MTs
terhadap pendidikan nasional jenjang SMP/MTs adalah 34,29% dan 21,76%.
Gambar 1. Perkembangan Jumlah Lembaga dan Siswa MTs 2003-2008
Ujian Nasional tahun 2008 pada jenjang MTs diikuti oleh
693.298 orang siswa. Jumlah siswa terbanyak berasal dari propinsi Jawa Timur
yaitu 136.667 siswa, kemudian propinsi Jawa Barat berjumlah 130.266 siswa dan
propinsi Jawa Timur berjumlah 110.917 siswa. Jumlah siswa peserta UN terkecil
untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah adalah propinsi Papua berjumlah 357 orang
siswa.
Dari jumlah 693.298 orang siswa tersebut, 167.343 orang
(24,14%) merupakan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan 525.955 orang
(75,86%) merupakan siswa Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS). Jumlah siswa
peserta Ujian Nasional MTsS lebih banyak dibandingkan dengan MTsN, hal ini
berbanding lurus dengan jumlah lembaga MTs yang mayoritas adalah lembaga swasta
dibandingkan negeri yaitu 90,23% : 9,77%. (Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan
2008)
Gambar 2. Jumlah Peserta Ujian Nasional Jenjang MTs Tahun 2008
3.1. Perbandingan
Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Pertama Tahun
2008.
Nilai rata-rata ujian nasional siswa Madrasah Tsanawiyah
(MTs) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian nasional
siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kecuali untuk mata ujian Bahasa Inggris. Pada
mata ujian Bahasa Inggris, nilai rata-rata ujian nasional siswa SMP lebih
tinggi dibandingkan nilai rata-rata ujian nasional siswa MTs baik pada lembaga
negeri maupun swasta (Tabel 1).
Angka ketidaklulusan siswa MTs pada ujian nasional tahun
2008 relatif lebih rendah dibandingkan siswa SMP yaitu 5,61% berbanding 7,17%.
Hal yang sama juga terjadi pada MTsN dan MTsS yang mempunyai angka
ketidaklulusan lebih rendah dibanding SMPN dan SMPS. Hal ini mengindikasikan secara
umum kualitas siswa MTs relatif lebih baik dibanding siswa SMP.
Tabel 1. Perbandingan
Hasil Ujian Nasional MTs dan SMP
Secara umum juga dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas MTsN/SMPN
relatif lebih baik dibandingkan dengan MTsS/SMPS, hal ini terlihat dari angka
ketidaklulusan siswa lembaga negeri lebih rendah dibanding lembaga swasta. Pada
Sekolah Menengah Pertama terdapat selisih ketidaklulusan yang relatif tinggi
antara lembaga negeri dan swasta yaitu 6,41% : 9,31%. Sedangkan pada Madrasah
Tsanawiyah, selisih ketidaklulusan relatif rendah yaitu 5,24% : 5,72%. Hal ini
mengindikasikan terdapat variasi kualitas yang lebih tinggi pada lembaga SMP
dibandingkan dengan MTs.
Gambar 3. Perbandingan Angka Ketidaklulusan UN Siswa MTs dan SMP Tahun 2008
3.1. Perbandingan
Hasil Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah Setiap Propinsi
Pada ujian nasional tahun 2008, ketidaklulusan siswa MTs
terbesar terdapat pada propinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 976 (47,75%)
siswa, selanjutnya adalah propinsi Kalimantan Barat sebanyak 2.271 (33,41%)
siswa dan propinsi Bangka Belitung sebanyak 481 (30,79%) siswa peserta UN.
Sedangkan ketidaklulusan terendah terdapat pada propinsi DKI Jakarta yaitu 0%
atau semua siswa MTs peserta UN dinyatakan lulus.
Gambar 4 menunjukkan siswa tidak lulus terbanyak terdapat
di propinsi Nusa Tenggara Timur, kemudian Kalimantan Barat, dan Bangka Belitung
dengan ketidaklulusan di atas 20%. Sedangkan Propinsi DKI Jakarta merupakan
propinsi dengan siswa tidak lulus terendah yaitu seluruh 13.633 siswa MTs
peserta UN dinyatakan lulus atau ketidaklulusan 0% (Tabel 2).
Gambar 4. Siswa MTs yang Tidak Lulus UN 2008 Setiap
Propinsi
Nilai rata-rata ujian nasional tertinggi pada jenjang MTs
adalah propinsi Jawa Barat dengan total nilai rata-rata 29,81, kemudian di
peringkat kedua dan ketiga adalah propinsi Bali dan Jawa Timur dengan total
nilai rata-rata 29,77 dan 29,25. Sedangkan nilai rata-rata ujian nasional
terendah pada jenjang MTs adalah propinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan
Barat, dan Bangka Belitung dengan total nilai rata-rata 20,80, 22,11 dan 22,62.
Persentase siswa MTs tidak lulus tertinggi juga terdapat pada 3 propinsi ini.
(Tabel 2)
Tabel 2. Nilai
Rata-rata UN dan Ketidaklulusan Propinsi
Tabel 3. Pengelompokan
Propinsi Berdasarkan Hasil UN MTs
Bila dianalisis lebih lanjut menggunakan analisis cluster
berdasarkan nilai setiap mata ujian dan angka ketidaklulusan, maka hasil ujian
nasional siswa MTs tahun 2008 setiap propinsi dapat dikelompokkan menjadi tiga
cluster. Cluster pertama adalah propinsi DKI Jakarta (kode 1) dengan nilai
rata-rata UN sebesar 28,22 dan 0% ketidaklulusan, cluster kedua adalah propinsi
Jabar, Jateng, DIY, Jatim, NAD, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Lampung,
Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sultra, Maluku, Bali, NTB,
Papua, Bengkulu, Malut, Gorontalo, Banten, Kepri, Sulbar, dan Papua Barat (kode
2 – 33) dengan nilai rata-rata UN berkisar antara 23,98 – 29,81 dan cluster ketiga
adalah propinsi Kalbar, Babel, dan NTT (kode 13, 24, dan 28) dengan nilai
rata-rata UN berkisar 20,8 – 22,62 dan ketidaklulusan di atas 20%.
Gambar 5. Dendogram Pengelompokan Propinsi Berdasarkan
Hasil UN MTs
3.1. Karakteristik
Nilai Ujian Nasional Madrasah Tsanawiyah
Karakteristik
nilai ujian nasional bisa dilakukan dengan analis biplot. Analisis Biplot
merupakan upaya penampilan grafis dua dimensi terhadap tabel dengan banyak
variabel. Ada tiga hal penting yang bisa didapatkan dari tampilan biplot yaitu
; (1) kedekatan antar objek : dimana informasi ini bisa dijadikan panduan objek
mana yang memiliki kemiripan karakteristik dengan objek tertentu ; (2)
keragaman variabel : informasi ini digunakan untuk melihat apakah ada variabel tertentu
yang nilainya hampir sama untuk setiap objek, atau sebaliknya bahwa nilai dari
setiap objek ada yang sangat besar dan ada juga yang sangat kecil ; (3)
Korelasi antar variabel : informasi ini bisa digunakan untuk menilai bagaimana
variabel yang satu mempengaruhi/dipengaruhi variabel yang lain.
Gambar 6. Biplot Hasil
UN MTs
Karena biplot adalah upaya membuat gambar di ruang
berdimensi banyak menjadi gambar di ruang dimensi dua. Pereduksian dimensi ini
mempunyai konsekuensi menurunnya besar informasi yang terkandung dalam biplot.
Pada hasil ujian nasional siswa Madrasah Tsanawiyah,
analisis biplot memberikan gambaran bahwa propinsi DKI, DI Yogyakarta, Jawa Timur,
Jawa Barat, dan Bali relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia lebih baik
dibandingkan propinsi lainnya. Sedangkan propinsi Sulawesi Barat, Maluku Utara,
Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah relatif memiliki nilai Bahasa Indonesia
lebih rendah dibandingkan propinsi lainnya.
Propinsi Sumatera Utara, Gorontalo, Nanggroe Aceh Darussalam,
Jawa Barat, dan Jawa Timur relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa
Inggris lebih baik dibanding propinsi lain. Sedangkan propinsi NTT, Kalbar, dan
Bangka Belitung relatif memiliki nilai
IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih rendah dibanding propinsi lain.
Vektor variabel nilai Bahasa Inggris dan Matematika
hampir berhimpitan, hal ini menunjukkan kedua variabel tersebut berkorelasi
positif. Yang berarti propinsi yang nilai Bahasa Inggris tinggi akan memiliki
nilai Matematika yang tinggi pula.
4. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis hasil ujian
nasional Madrasah Tsanawiyah tahun 2008 ini adalah :
·
Nilai
rata-rata ujian nasional siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata ujian
nasional siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kecuali untuk mata ujian Bahasa
Inggris.
·
Angka
ketidaklulusan siswa MTs pada ujian nasional tahun 2008 relatif lebih rendah dibandingkan siswa SMP yaitu 5,61% berbanding
7,17%.
·
Pada
UN 2008, ketidaklulusan siswa MTs terbesar terdapat pada propinsi Nusa Tenggara
Timur yaitu sebanyak 976 (47,75%) siswa, selanjutnya adalah propinsi Kalimantan
Barat sebanyak 2.271 (33,41%) siswa dan propinsi Bangka Belitung sebanyak 481
(30,79%) siswa.
·
Hasil
ujian nasional siswa MTs tahun 2008 setiap propinsi dapat dikelompokkan menjadi
tiga cluster. Cluster pertama adalah propinsi DKI Jakarta dengan nilai
rata-rata UN sebesar 28,22 dan 0% ketidaklulusan, cluster kedua adalah propinsi
Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam,
Sumatra Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan
Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Bali, Nusa Tenggara Bara, Papua,
Bengkulu, Maluku Utara, Gorontalo, Banten, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat, dan
Papua Barat dengan nilai rata-rata UN berkisar antara 23,98 – 29,81 dan cluster
ketiga adalah propinsi Kalimantan Barat, Bangka Belitung, dan Nusa Tenggara Timur
dengan nilai rata-rata UN berkisar 20,8 – 22,62 dan ketidaklulusan di atas 20%.
·
Analisis
Biplot memberikan gambaran bahwa propinsi DKI, DI Yogyakrta, Jawa Timur, Jawa Barat,
dan Bali relatif memiliki nilai Bahasa
Indonesia lebih baik dibandingkan propinsi lainnya. Sedangkan propinsi Sulawesi
Barat, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah relatif memiliki
nilai Bahasa Indonesia lebih rendah dibandingkan propinsi lainnya.
·
Propinsi
Sumatera Utara, Gorontalo, Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, dan Jawa Timur
relatif memiliki nilai IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih baik dibanding
propinsi lain. Sedangkan propinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan
Bangka Belitung relatif memiliki nilai
IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris lebih rendah dibanding propinsi lain.
5. Daftar
Bacaan
Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama. Series 2001/2002 sd 2007/2008. Statistik
Pendidikan Agama dan Keagamaan. Jakarta. Depag.
Departemen Statistika FMIPA IPB. 2006. Analisis Peubah
Ganda. Bogor. FMIPA IPB.
Keputusan
Mendiknas No 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional (UAN).
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34/2007 tentang
Ujian Nasional.
Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan
Nasional. 2007. Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007.
Jakarta. Depdiknas.
Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan
Nasional. 2008. Laporan Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2007/2008.
Jakarta. Depdiknas
Tatham. Ronald. L,
Anderson. Rolph.E, & Hair. Joseph. E. 1987. Multivariate Data Analysis. Second Edition.
New York: Macmillan Publishing Company.
Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar